FIQH DALAM ISLAM

Fikih menurut bahasa adalah “Paham”, maksudnya pengertian atau pemahaman mendalam yang menghendaki pengerahan potensi akal,

Sedangkan para ulama ushul fikih menyatakan;

“Fikih adalah mengetahui hukum islam yang bersifat amalan melalui dalil terperinci”

Di sisi lain ulama fikih menguraikan bahwa, “Fikih merupakan sekumpulan hukum amaliah yang disyariatkan dalam islam”. Pembahasan fikih ini mencakup perbuatan para mukallaf atau orang dewasa yang wajib menjalankan hukum agama dan hukum seperti apa yang harus dikenakan terhadap perbuatan itu.

Selain ibadah mahdloh, ada pula hukum yang bersangkut-paut dengan permasalahn keluarga, seperti nikah dan perceraian, hukum mengenai hubangan antarsesama manusia, hukum yang berisi tindak pidana, penyelesaian sengketa, hubungan antar penguasa dan warganya, hubungan antarnegara dalam keadaan perang dan damai serta Akhlak.

Dalam penetapannya, ada ada sumber-sumber hukum fikih, yaitu yang disepakati, yaitu Al-qur’an dan Hadits. Sedangkan sumber yang dibedakan di antaranya, Ijmak dan Kias,  yang biasa disebut sebagai sumber sekunder. Sebab, dalam penetapan hukum ijmak dan kias tak dapat berdiri sendiri, tetapi harus disandarkan pada Al-qur’an dan Hadits.

Ahli fikih Mustafa Zarqa memaparkan, seiring laju zaman, fikih mengalami proses perkembangan. Menurut dia, ada tujuh periode perkembangan.

Pertama; Periode Risalah, yakni masa kehidupan Rasululah. Pada periode ini, fikih masih dipahami sebagai segala yang dikandung dari Al-qur’an dan Hadits. Hal ini mencakup persoalan akidah, ibadah, muamalah, dan adab. Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menerangkan, fikih pada masa Rasullulah mengandung ilmu  yang menuju jalan akhirat.

Kedua: Periode empat khalifah utama sampai pertengahan abad pertama hijriah. Saat Rasul masih hidup, para sahabat belum berpikir secara serius mengenai permasalahan hukum karena semua hal dirujuk pada diri Rasulullah. setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW, barulah para sahabat berani berijtihad dala memecahkan permasalahan-permasalahan yang baru muncul. Setiap menghadapi masalah, yang pertama dilakukan adalah mencari jawaban dari Al-qur’an. Jika mereka tak mendapati dari Al-Qur’an, mereka meneliti hadits-hadits Nabi Muhammad. Langkah selanjutnya, mereka berijtihad dengan bersandar pada prinsip-prinsip yang ditinggalkan Rasul.

Ketiga: Dari pertengahan abad pertama hijriah sampai permulaan abad kedua hijriah.

Keempat: Dari awal abad kedua hingga pertengahan abad keempat hijriah. Pada periode ini fikih berkembang pesat yang ditandai dengan munculnya para imam madzhab, seperti Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali.

Kelima: Periode pertengahan abad keempat sampai pertengahan abad ketujuh hijriah. Pada periode ini, gerakan ijtihad mulai melemah, para ahli fikih lebih fokus terhadap pengkajian pada pendapat-pendapat yang ada didalam madzhab masing-masing. Kajian itu berupa penjelasan, penerapan, dan penetapan buku fikih madzhab mereka.

Keenam: Berlangsung dari pertengahan abad ketujuh hijriah hingga munculnya kodifikasi hukum perdata islam pada asa Turki Utsmani, yang diundangkan pada 26 Sya’ban 1293. sejumlah hal penting muncul pada periode ini, seperti berkembangnya pembukuan fatwa hukum resmi dengan menyusunnya pada bab tertentu.

Ketujuh: Bermula setelah munculnya kodifikasi hukum perdata islam hingga masa modern. Mustafa Zarqa mengatakan, ada 3 ciri pada periode ini, yaitu Lahirnya kodifikasi fikih seusai tuntunan zaman, Meluasnya usaha kodifikasi hukum yang tak hanya pada hukum perdata, tetapi juga pidana, acara, dan hukum administrasi negara.

Dan, terakhir adalah maraknya langkah untuk menerapkan materi hukum tanpa terikat pada salah satu madzhab dari empat madzhab. Mulai ada pertimbangan madzhab yang sebelunya tak banyak diungkap, seperti madzhab Makhul, Hasan Basri, An-Nakhai, Auza, dan Abu Laila.

Pic;Fiqh As-sunnah muallaf bi sayyid as-saabiq

Advertisements

Jullian Assange: Facebook dan Google adalah alat intelijen AS

WASHINGTON (Arrahmah.com) – Jullian Assange, pemilik dan pendiri Wikileaks, belum selesai. Pembongkar rahasia asal Australia ini telah merilis ribuan dokumen pemerintah AS berlabel rahasia, namun dia tetap muncul dalam wawancara untuk memberikan keterangan dan menjelaskan ancaman terselubung tentang apa yang belum terjadi. Dia mendapat perhatian dari wawancaranya dengan statemen yang berani yang terakhir, saat dia menyoroti bahwa sudah seharusnya pengguna internet untuk tetap anonim (tidak mengumbar identitas asli). Dalam sebuah wawancara ekslusif dengan RT, Assange mengatakan bahwa jaringan yang paling populer di dunia sosial, Facebook merupakan yang paling berbahaya, sebuah “mesin mata-mata mengerikan”. Ditanya tentang pemikirannya mengenai peran media sosial yang telah dimainkan dalam revolusi baru-baru ini di Timur Tengah, pendiri Wikileaks itu menyoroti dari sisi lain. “Facebook merupakan mesin mata-mata paling mematikan dan mengerikan yang pernah ditemukan,” ujarnya. “Di sini kita memiliki database dunia yang paling komprehensif tentang orang-orang, hubungan mereka, nama mereka, alamat mereka, lokasi mereka dan komunikasi satu sama lain, keluarga mereka, semua terkumpul di AS, semua dapat diakses oleh intelijen AS.” Facebook, Google, Yahoo, –semua organisasi utama AS ini punya koneksi khusus untuk intelijen AS. Mereka memiliki antarmuka khusus yang dikembangkan untuk digunakan oleh intelijen AS. Intelijen AS dan Facebook telah meng-otomatisasi proses. “Setiap orang harus memahami bahwa ketika mereka menambahkan teman-teman mereka ke Facebook, mereka melakukan pekerjaan gratis untuk badan-badan intelijen Amerika Serikat dalam membangun database mereka,” ujar Assange. (haninmazaya/fadly/arrahmah.com)